Parenting
Cara Mengajari Anak Penjumlahan dan Pengurangan
Mulai dari benda nyata, lalu gambar, baru angka. Ini urutan mengajari anak penjumlahan dan pengurangan sampai 10 di rumah, plus kesalahan yang perlu dihindari.
Cara mengajari anak penjumlahan paling mudah dimulai dari benda nyata: gabungkan dua kelompok benda, lalu hitung semuanya. Pengurangan diajarkan dengan cara sebaliknya, yaitu mengambil sebagian benda lalu menghitung sisanya. Setelah anak lancar dengan benda, baru pindah ke gambar, lalu ke angka dan tanda + dan -.
Urutan ini cocok untuk anak usia 5 sampai 7 tahun yang sudah bisa menghitung benda 1 sampai 10 dengan benar. Kalau anak belum sampai tahap itu, latih dulu menghitungnya. Penjumlahan yang dipaksakan sebelum anak paham jumlah biasanya berakhir jadi hafalan.
Kapan anak siap belajar penjumlahan dan pengurangan
Anak biasanya siap kalau ia sudah bisa menghitung sekumpulan benda tanpa melompat atau menghitung dua kali, dan tahu bahwa angka terakhir yang disebut adalah jumlah semuanya. Tanda lain: ia bisa menjawab "mana yang lebih banyak?" untuk dua kelompok benda kecil.
Panduan dari Learning Potential, situs parenting milik pemerintah Australia, menyebut anak usia 4 sampai 6 tahun mulai menyelesaikan soal penjumlahan dan pengurangan sehari-hari dengan benda atau jari. Penjumlahan dipraktikkan dengan menggabungkan dua atau lebih kelompok kecil benda, pengurangan dengan memisahkan dan mengambil sebagian benda dari satu kelompok. Jadi di usia ini, anak memang belum diharapkan menjawab soal di kepala.
Di Indonesia, materi ini masuk di kelas 1 SD. Buku Matematika untuk SD/MI Kelas I terbitan Kemendikbudristek (2022) mengajarkan penjumlahan dan pengurangan sampai 10 lebih dulu, baru kemudian sampai 20. Bukunya juga membuka setiap materi dengan cerita sederhana dan benda di sekitar anak. Pola yang sama bisa dipakai di rumah.
Tahap 1: penjumlahan dengan benda nyata
Siapkan benda kecil yang mudah dipindahkan: tutup botol, kancing besar, atau potongan biskuit. Taruh 3 tutup botol di kiri dan 2 di kanan. Minta anak menghitung tiap kelompok, lalu dorong keduanya jadi satu dan hitung lagi dari awal. Ucapkan apa yang terjadi: "Tiga ditambah dua jadi lima."
Ulangi dengan angka kecil dulu, hasilnya tidak lebih dari 5. Setelah lancar, naikkan sampai hasil 10. Bentuk soal cerita membantu anak paham bahwa "tambah" artinya bertambah banyak, misalnya: "Di piring ada 4 kue. Kakak menaruh 2 lagi. Sekarang ada berapa?"
Satu langkah yang sering terlewat: setelah anak terbiasa menghitung semua dari awal, ajak ia menghitung maju. Sebut angka kelompok pertama, lalu lanjutkan hitungan dari situ. "Ada empat... lima, enam. Jadi enam." Cara ini dipakai di buku kelas 1 SD dan jadi jembatan sebelum anak menghitung di kepala.
Tahap 2: pengurangan dengan mengambil benda
Pengurangan paling mudah dipahami sebagai "mengambil". Taruh 6 tutup botol, minta anak mengambil 2, lalu hitung sisanya. Katakan kalimatnya dengan jelas: "Enam diambil dua, sisa empat."
Kegiatan rumah sehari-hari bisa jadi bahan. Misalnya ada 7 jeruk di meja, lalu 3 dimakan saat sarapan. Berapa yang tersisa? Anak bisa mengecek sendiri dengan melihat jeruk yang ada.
Setelah itu kenalkan menghitung mundur. Dari 6, mundur dua langkah: lima, empat. Latih menghitung mundur dari 10 sebagai permainan, misalnya hitungan mundur sebelum roket mainan "meluncur", supaya anak terbiasa dulu sebelum memakainya untuk soal.
Tahap 3: dari gambar ke angka dan tanda + dan -
Kalau anak sudah lancar dengan benda, ganti bendanya dengan gambar. Gambar 3 apel dan 2 apel di kertas, lalu tulis di bawahnya: 3 + 2 = 5. Dengan begitu anak melihat bahwa tulisan angka itu hanya cara singkat mencatat apa yang tadi ia lakukan dengan benda.
Deretan angka 0 sampai 10 yang ditulis di selembar kertas juga berguna. Anak menaruh jari di angka 3, melompat 2 kali ke kanan, dan berhenti di 5. Untuk pengurangan, ia melompat ke kiri. Alat sederhana ini membantu anak yang mulai bosan dengan benda tapi belum siap menghitung di kepala.
Di tahap ini, tunjukkan juga hubungan tambah dan kurang. Kalau 3 + 2 = 5, maka 5 - 2 = 3. Pakai benda yang sama: gabungkan, lalu pisahkan lagi. Anak yang paham hubungan ini biasanya lebih cepat lancar karena ia tidak menghafal dua kali.
Pasangan bilangan 10, bekal penting sebelum berhitung lebih besar
Pasangan bilangan 10 adalah dua angka yang kalau dijumlahkan hasilnya 10: 1 dan 9, 2 dan 8, 3 dan 7, 4 dan 6, 5 dan 5. Buku matematika kelas 1 SD memberi bagian khusus untuk ini karena pasangan 10 dipakai terus saat anak mulai menjumlah sampai 20 dan seterusnya.
Cara melatihnya di rumah: siapkan 10 tutup botol dan sebuah gelas. Masukkan sebagian ke dalam gelas tanpa dilihat anak, lalu tanya, "Di luar ada 4. Di dalam gelas ada berapa?" Anak yang awalnya menebak lama-lama mulai hafal pasangannya sendiri, tanpa terasa seperti menghafal.
Kesalahan yang membuat anak cepat bosan
Kesalahan paling umum adalah langsung memberi lembar kerja berisi deretan soal 3 + 4 = ... sebelum anak memahami artinya dengan benda. Anak mungkin bisa menjawab dengan menghafal, tapi bingung saat soalnya berubah jadi cerita.
Kesalahan lain adalah melarang anak memakai jari. Jari adalah alat hitung yang selalu ia bawa, dan panduan Learning Potential di atas juga menyebut jari sebagai alat yang wajar di usia ini. Anak biasanya berhenti memakai jari sendiri setelah ia hafal pasangan bilangan.
Terakhir, sesi yang terlalu lama. Sepuluh sampai lima belas menit sehari sudah cukup. Berhenti saat anak masih senang, supaya ia mau lagi besok.
Kapan anak perlu bantuan tambahan
Wajar kalau anak butuh waktu berminggu-minggu sampai lancar menjumlah sampai 10. Yang perlu diperhatikan adalah kalau anak usia 6 sampai 7 tahun masih belum bisa menghitung benda dengan benar walau sudah rutin diajak bermain angka, atau kalau ia mulai menghindar setiap kali melihat angka. Ceritakan pada guru kelas atau guru PAUD-nya, karena mereka bisa membandingkan dengan teman seusianya. Anak yang sudah mulai takut atau tegang saat belajar matematika juga biasanya lebih nyaman belajar lewat permainan bersama teman sebaya.
Belajar menambah dan mengurangi di Fun Math
Cara di atas mengikuti urutan yang sama dengan panduan cara mengajari anak berhitung usia 3-7 tahun di rumah: benda nyata dulu, gambar kemudian, simbol paling akhir. Kalau anak lebih semangat belajar bersama teman, program Fun Math Smartkidz punya level Explorer untuk usia 5 sampai 7 tahun dengan materi nilai tempat, garis bilangan, penjumlahan dan pengurangan, serta nilai uang. Metodenya juga dimulai dari benda nyata dan alat peraga, lalu semi konkret, baru ke simbol angka. Mama dan Papa bisa mendaftar trial class gratis lewat formulir di halaman program, lalu memilih cabang terdekat.