← Semua artikel

Parenting

Cara Mengajari Anak Berhitung Usia 3-7 Tahun di Rumah

· Oleh Tim Smartkidz
Anak menghitung balok warna-warni bersama orang tuanya di rumah

Cara mengajari anak berhitung paling mudah lewat kegiatan sehari-hari. Ada tahapan sesuai usia, 8 permainan di rumah, dan kesalahan yang perlu dihindari.

Cara mengajari anak berhitung paling mudah dimulai dari kegiatan sehari-hari: menghitung anak tangga, menata sendok di meja makan, atau membandingkan buah mana yang lebih besar. Untuk anak usia 3 sampai 7 tahun, yang dikejar bukan seberapa cepat ia hafal angka. Yang penting, ia paham bahwa angka mewakili jumlah benda.

Di bawah ini ada tahapan belajar berhitung sesuai usia, 8 permainan yang bisa langsung dicoba di rumah, kesalahan yang sering terjadi, dan tanda anak butuh pendampingan tambahan.

Hafal angka belum tentu bisa berhitung

Banyak anak 3 tahun sudah lancar menyebut "satu, dua, tiga" sampai sepuluh. Tapi saat diminta mengambil lima kelereng, ia mengambil segenggam. Ini wajar. Menyebut urutan angka itu mirip menghafal lagu, sedangkan berhitung butuh pemahaman jumlah.

Pemahaman ini disebut number sense atau rasa angka. Panduan keterampilan matematika awal dari situs Learning Potential milik pemerintah Australia membaginya menjadi lima kemampuan:

  • Mengenali dan menyebut angka, misalnya tahu bahwa tulisan "5" dibaca lima.

  • Satu benda, satu sebutan. Setiap benda dihitung sekali, tidak ada yang terlewat atau dihitung dua kali.

  • Urutan angka selalu tetap. Dua datang sebelum tiga, apa pun yang dihitung.

  • Angka terakhir adalah jumlahnya. Kalau hitungan berhenti di "lima", berarti ada lima benda.

  • Angka yang lebih besar berarti lebih banyak. Delapan permen lebih banyak dari tiga permen.

Kalau lima kemampuan ini sudah kuat, penjumlahan dan pengurangan di SD akan terasa jauh lebih ringan.

Tahapan belajar berhitung sesuai usia

Setiap anak punya kecepatan sendiri. Gambaran di bawah ini bukan target yang harus dicapai, hanya patokan untuk memilih kegiatan yang pas.

Usia 3 sampai 4 tahun: kenal jumlah lewat benda

Di usia ini anak belajar paling baik dengan menyentuh dan memindahkan benda. Ajak ia menghitung benda yang bisa dipegang sambil menunjuk satu per satu. Mulai dari jumlah kecil, misalnya sampai 5, lalu naik pelan-pelan sampai 10.

Kenalkan juga kata perbandingan: lebih banyak, lebih sedikit, lebih besar, lebih kecil, sama banyak. Kata-kata sederhana ini sering terlupa, padahal jadi dasar banyak soal matematika nanti.

Usia 4 sampai 5 tahun: angka, bentuk, dan pola

Anak mulai bisa mengenal angka sampai 20 dan mencocokkan jumlah benda dengan simbol angkanya. Ini waktu yang baik untuk mengenalkan bentuk (lingkaran, segitiga, persegi) dan pola sederhana seperti merah, biru, merah, biru. Lewat pola, anak belajar menebak apa yang datang berikutnya.

Usia 5 sampai 7 tahun: menambah dan mengurangi

Setelah paham jumlah, anak bisa mulai menambah dan mengurangi dengan benda nyata. "Kamu punya 3 biskuit, Ibu kasih 2 lagi. Sekarang ada berapa?" Biarkan ia menghitung dengan jari atau benda dulu. Menghitung di kepala akan datang sendiri setelah konsepnya kuat.

Di usia ini anak juga mulai bisa mengenal puluhan dan satuan, mengukur panjang dengan jengkal atau penggaris, dan membaca jam sederhana.

8 permainan berhitung di rumah

Tidak perlu membeli alat khusus. UNICEF dalam panduannya tentang mengenalkan matematika pada balita juga menyarankan kegiatan harian seperti memasak bersama, berbelanja di pasar, dan menyusun balok.

  1. Menghitung anak tangga. Setiap naik atau turun, hitung bersama dengan suara keras. Gerakan tubuh membantu anak merasakan bahwa satu langkah sama dengan satu angka.

  2. Menata meja makan. Minta anak menyiapkan sendok sesuai jumlah anggota keluarga. "Kita berempat, jadi butuh berapa sendok?"

  3. Memasangkan kaus kaki. Setelah semua berpasangan, hitung ada berapa pasang. Anak belajar mengelompokkan sekaligus menghitung.

  4. Belanja di warung atau pasar. Ajak anak memasukkan 4 jeruk ke kantong, atau memilih mangga yang lebih besar.

  5. Membantu di dapur. Menuang 2 sendok gula atau menghitung telur adalah latihan mengukur yang nyata. Pilih tugas yang aman untuk usianya dan tetap awasi.

  6. Menyusun menara balok. Hitung berapa balok sampai menaranya roboh, lalu coba lagi dan bandingkan hasilnya.

  7. Berburu angka. Saat jalan-jalan, cari angka di plat nomor, nomor rumah, atau label harga.

  8. Meronce manik-manik berpola. Buat pola warna, lalu minta anak melanjutkannya.

Cukup 10 sampai 15 menit sehari. Sebentar tapi rutin dan menyenangkan lebih berguna daripada lama tapi membuat anak bosan.

Kesalahan yang sering terjadi

  • Langsung memberi lembar kerja. Menulis angka dan mengerjakan soal di kertas sebaiknya datang setelah anak paham jumlah lewat benda nyata.

  • Hanya mengejar hafalan. Anak yang hafal 1 sampai 100 belum tentu paham bahwa 7 lebih banyak dari 4. Selalu sambungkan angka dengan benda.

  • Melarang anak berhitung dengan jari. Jari adalah alat bantu alami, dan anak akan berhenti memakainya sendiri saat sudah siap.

  • Membandingkan dengan anak lain. Cara ini justru bisa membuat anak takut pada matematika.

  • Memaksa saat anak lelah. Kalau anak mulai rewel, berhenti dan lanjutkan besok.

Perlukah anak lancar berhitung sebelum masuk SD?

Pertanyaan ini sering muncul menjelang pendaftaran sekolah. Singkatnya, anak tidak wajib lancar berhitung, tapi pemahaman dasar soal jumlah sangat membantu ia mengikuti pelajaran kelas 1. Aturan dan cara melihat kesiapan anak dibahas di artikel apakah anak harus bisa calistung sebelum masuk SD.

Kapan anak perlu pendampingan tambahan?

Kebanyakan anak berkembang sendiri kalau sering diajak bermain angka. Ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan, terutama setelah usia 6 tahun:

  • Masih kesulitan menghitung benda sampai 10 walau sudah sering berlatih.

  • Belum bisa membedakan mana yang lebih banyak dan mana yang lebih sedikit.

  • Sering lupa urutan angka yang sudah dipelajari berkali-kali.

  • Terlihat cemas atau menolak setiap kali diajak berhitung.

Kalau tanda ini muncul, bicarakan dengan guru di sekolah atau PAUD. Guru biasanya bisa melihat apakah anak hanya butuh waktu lebih, butuh cara belajar yang berbeda, atau perlu diperiksa ahli.

Belajar berhitung lewat permainan bersama Fun Math

Kalau ingin anak belajar matematika dengan cara yang terarah tapi tetap menyenangkan, Smartkidz punya program Fun Math untuk anak usia 3 sampai 12 tahun. Programnya memakai metode SIGMA (Stimulasi, Imajinasi, Game, Model, dan Aksi). Anak diajak lewat cerita, permainan, dan benda konkret serta alat peraga, lalu menerapkannya dalam proyek mini.

Materinya dibagi sesuai usia. Little Math (3 sampai 5 tahun) mengenalkan angka 1 sampai 20, bentuk, dan pola. Explorer (5 sampai 7 tahun) masuk ke nilai tempat, penjumlahan, pengurangan, dan satuan ukuran. Untuk anak yang lebih besar ada level Solver dan Master.

Trial class Fun Math gratis. Daftarnya lewat formulir di halaman program, sekalian memilih cabang Smartkidz terdekat.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Umur berapa anak mulai diajari berhitung?

Anak bisa dikenalkan pada angka sejak balita lewat obrolan sehari-hari, misalnya menghitung jari atau anak tangga. Latihan yang lebih terarah, seperti mencocokkan jumlah benda dengan simbol angka, biasanya cocok mulai usia 3 sampai 4 tahun. Ikuti minat anak dan jangan dipaksa.

Bagaimana cara mengajari anak berhitung 1 sampai 10?

Pakai benda yang bisa dipegang, misalnya 10 tutup botol. Hitung bersama sambil memindahkan satu per satu ke wadah lain. Setelah lancar sampai 5, tambah pelan-pelan sampai 10. Ulangi dengan benda berbeda supaya anak paham angka berlaku untuk benda apa saja.

Apakah anak boleh berhitung pakai jari?

Boleh. Jari membantu anak melihat dan merasakan jumlah, dan ini langkah wajar sebelum anak bisa menghitung di kepala. Kebanyakan anak berhenti memakai jari dengan sendirinya setelah konsep jumlah dan penjumlahan dasarnya kuat.