← Semua artikel

Parenting

Anak Berhitung Pakai Jari, Boleh atau Tidak?

29 October 2026· Oleh Tim Smartkidz
Anak perempuan usia 5 tahun menghitung dengan jari di meja belajar bersama ibunya

Anak berhitung pakai jari itu wajar di usia 4-7 tahun. Ini kata penelitian, kapan anak sebaiknya berhenti, dan cara membantunya tanpa melarang.

Anak berhitung pakai jari itu boleh, dan di usia 4 sampai 7 tahun justru wajar. Jari adalah alat hitung pertama yang dimiliki anak: selalu dibawa, bisa dilihat, dan bisa digerakkan satu per satu. Yang perlu diperhatikan orang tua adalah kapan jari mulai ditinggalkan, bukan bagaimana melarangnya sejak awal.

Kenapa anak suka menghitung dengan jari

Angka adalah sesuatu yang abstrak. Anak kecil belum bisa membayangkan "tujuh" tanpa melihat tujuh benda. Jari memberi benda itu: tujuh jari yang terangkat bisa dilihat, disentuh, dan dihitung ulang kalau ragu.

Belajar matematika memang bergerak dari yang konkret ke yang abstrak, dan dari menghitung satu per satu ke mengingat fakta hitung. Pola ini dirangkum Cambridge Mathematics dalam ulasan riset tentang penggunaan jari dalam belajar matematika. Jari ada di tengah perjalanan itu: lebih abstrak dari kelereng atau tutup botol, tapi masih jauh lebih nyata daripada angka di kertas.

Karena itu, kalau anak tiba-tiba mengangkat jari saat ditanya "tiga tambah dua berapa?", itu tanda ia sedang berpikir, bukan tanda ia lemah di matematika.

Apa kata penelitian soal anak berhitung pakai jari

Penelitian dari Universitas Lausanne, Swiss, yang diulas HaiBunda, mengikuti 211 anak berusia 4,5 sampai 7,5 tahun. Anak-anak itu mengerjakan soal penjumlahan dua kali setahun sambil direkam video, supaya peneliti bisa melihat kapan mereka memakai jari. Hasilnya dirangkum dalam artikel anak yang menghitung pakai jari justru lebih jago matematika.

Beberapa temuan yang berguna untuk orang tua:

  • Pemakaian jari paling sering muncul di usia sekitar 5,5 sampai 6 tahun.

  • Di usia 7,5 tahun, 43% anak pernah memakai jari lalu berhenti sendiri, 50% masih memakainya, dan hanya 7% yang tidak pernah memakainya.

  • Anak yang paling mahir adalah mereka yang dulu sering memakai jari dan sekarang sudah bisa berhitung tanpa jari. Mereka lebih unggul dibanding anak yang tidak pernah memakai jari.

Peneliti utamanya, Catherine Thevenot, berpendapat tidak ada alasan melarang anak memakai jari di sekolah. Jadi kebiasaan ini bukan sesuatu yang perlu dihapus. Jari adalah tahap yang biasanya dilewati anak-anak yang kemudian lancar berhitung.

Kapan anak sebaiknya mulai berhenti pakai jari

Jari membantu di awal, tapi tidak dimaksudkan dipakai selamanya. Ulasan Cambridge Mathematics yang sama mengutip penelitian Moeller dan rekan (2011): jari berguna sebagai dasar, tetapi anak yang masih bergantung pada jari di kelas 2 SD (sekitar 7 sampai 8 tahun) lebih rentan salah hitung. Ulasan itu juga menyebut bahwa menghitung dengan jari menambah beban pikiran saat anak belum lancar memakainya, sehingga langkahnya mudah terselip.

Gambaran kasarnya kira-kira begini:

  • Usia 4 sampai 6 tahun: jari dipakai bebas. Ini masa anak membangun pemahaman jumlah.

  • Usia 6 sampai 7 tahun: jari masih boleh, sambil pelan-pelan dikenalkan cara lain, misalnya menghitung maju dari angka yang lebih besar dan pasangan bilangan 10.

  • Kelas 2 SD ke atas: kalau anak masih menghitung satu per satu dengan jari untuk soal seperti 4 + 3, ini saatnya membantu ia hafal fakta hitung dasar.

Patokan usia ini bukan aturan baku. Penulis ulasan Cambridge sendiri mengingatkan bahwa riset belum memetakan dengan pasti kapan tepatnya anak perlu beralih. Lihat kesiapan anakmu, bukan hanya umurnya.

Cara membantu anak pindah dari jari ke hitungan di kepala

Tujuannya bukan melarang jari, tapi memberi anak cara lain yang lebih cepat. Kalau cara baru itu sudah terasa lebih mudah, anak biasanya meninggalkan jari dengan sendirinya.

  1. Menghitung maju dari angka terbesar. Untuk 2 + 6, ajak anak mulai dari 6, lalu lanjut "tujuh, delapan". Jari yang dipakai jadi lebih sedikit dan anak mulai paham urutan bilangan.

  2. Kenalkan pasangan bilangan 10. 1 dan 9, 2 dan 8, 3 dan 7, 4 dan 6, 5 dan 5. Pasangan ini dipakai terus saat anak menjumlah sampai 20 dan seterusnya.

  3. Main tebak jari tersembunyi. Angkat beberapa jari, sembunyikan sisanya di balik punggung, lalu tanya: "Kalau yang kelihatan 3, yang disembunyikan berapa supaya jadi 5?" Anak mulai membayangkan jumlah tanpa menghitung satu per satu.

  4. Pakai benda yang bisa disusun berkelompok. Lima tutup botol berjajar lalu lima lagi di bawahnya. Anak belajar melihat "lima" sekaligus, tanpa menghitung dari satu.

  5. Ulangi fakta hitung yang sama dalam permainan pendek. Sepuluh menit sehari cukup. Fakta yang sering muncul lama-lama diingat, dan jari tidak lagi diperlukan untuk soal itu.

Kalau anak belum lancar menghitung benda 1 sampai 10, mundur dulu satu langkah. Latihan dengan benda nyata ada di artikel cara mengajari anak berhitung 1 sampai 10 dengan benda.

Yang sebaiknya tidak dilakukan

Melarang anak memakai jari, apalagi sampai menyuruhnya duduk di atas tangan, biasanya membuat anak tegang dan malu. Anak yang malu cenderung menghitung diam-diam di bawah meja, atau menebak asal supaya cepat selesai. Penelitian dari Prancis yang juga disebut HaiBunda menemukan 30% guru kelas 1 menganggap menghitung dengan jari sebagai tanda anak kesulitan memahami angka. Padahal, seperti temuan di atas, banyak anak yang paling mahir justru melewati tahap jari lebih dulu.

Hal lain yang perlu dihindari: membandingkan dengan kakak atau teman yang "sudah bisa tanpa jari", dan memberi lembar kerja penuh soal sebelum anak paham artinya. Tekanan seperti ini lebih sering membuat anak menghindari angka daripada membuatnya lancar.

Beda berhitung pakai jari biasa dan jarimatika

Berhitung pakai jari biasa artinya anak mengangkat jari satu per satu untuk mewakili benda. Jarimatika adalah metode tersendiri dengan aturan posisi jari untuk satuan dan puluhan, dan biasanya dipelajari di kelas khusus. Keduanya sama-sama memakai jari, tetapi tujuan dan caranya berbeda. Artikel ini membahas kebiasaan alami anak menghitung dengan jari, bukan metode jarimatika.

Kapan perlu bicara dengan guru

Ceritakan pada guru kelas atau guru PAUD bila anak usia 7 sampai 8 tahun masih harus menghitung dari satu dengan jari untuk soal sangat sederhana, padahal sudah rutin diajak bermain angka. Hal yang sama berlaku bila anak mulai menangis, marah, atau menghindar setiap kali melihat soal hitungan. Guru bisa membandingkan dengan teman seusianya dan memberi tahu apakah anak hanya butuh waktu lebih lama atau perlu pendampingan khusus.

Urutan belajar berhitung dari benda nyata sampai simbol angka dibahas lengkap di panduan cara mengajari anak berhitung usia 3-7 tahun di rumah. Untuk anak yang lebih semangat belajar bersama teman, program Fun Math Smartkidz untuk usia 3 sampai 12 tahun memakai urutan yang sama: mulai dari benda nyata, lalu semi konkret, baru simbol angka dan operasi hitung. Orang tua bisa mendaftarkan anak ke trial class gratis lewat halaman program Fun Math.