← Semua artikel

Parenting

Calistung Sebelum Masuk SD: Apakah Anak Harus Bisa?

13 October 2026· Oleh Tim Smartkidz
Anak usia 6 tahun berseragam SD memakai sepatu sendiri sebelum hari pertama sekolah, ilustrasi kesiapan masuk SD tanpa harus bisa calistung

Anak tidak wajib bisa calistung sebelum masuk SD. Ini aturan tes masuk SD sekarang dan 6 kesiapan yang lebih penting dilatih di rumah.

Tidak. Anak tidak harus bisa calistung (baca, tulis, hitung) sebelum masuk SD. Sejak 2023 Kemendikbudristek meminta SD menghapus tes calistung sebagai syarat penerimaan murid baru, karena tes seperti itu menyalahi aturan yang sudah ada dan masuk SD adalah hak anak.

Artinya, mengenalkan huruf dan angka di rumah tetap boleh, asal tidak dikejar sebagai syarat. Yang lebih menentukan lancar tidaknya anak di kelas 1 justru kesiapan lain: bisa berteman, mengatur emosi, mengurus diri sendiri, dan merasa belajar itu menyenangkan.

Aturan tes calistung untuk masuk SD sekarang

Tes calistung tidak boleh dipakai untuk menyaring calon murid SD. Mendikbudristek Nadiem Makarim menyampaikannya pada 28 Maret 2023, saat peluncuran Merdeka Belajar episode 24: Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan.

Menurut laporan Bisnis.com, Nadiem menyebut tes calistung menyalahi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 dan Permendikbudristek Nomor 1 Tahun 2021 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru. Ia juga menegaskan, "Tidak ada abu-abu, ini adalah haknya anak untuk masuk SD." Pembelajaran calistung menjadi tanggung jawab guru SD, bukan syarat yang harus dibawa anak dari rumah atau PAUD.

Kenapa calistung tidak dijadikan syarat

Alasan utamanya: fokus yang terlalu sempit pada calistung membuat banyak keterampilan lain terabaikan. Tes di pintu masuk juga bisa membuat anak merasa belajar itu menegangkan dan kehilangan percaya diri, padahal ia baru mau mulai sekolah.

Coba bayangkan anak 6 tahun yang sudah dilatih membaca berbulan-bulan demi tes, lalu gagal di hari tes. Yang ia ingat dari pengalaman pertamanya dengan sekolah adalah rasa takut, bukan rasa ingin tahu.

Kesiapan yang lebih penting dari calistung

Kemendikbudristek merumuskan enam fondasi yang perlu dimiliki anak saat pindah dari PAUD ke SD. Direktur Jenderal PAUD, Dikdas, dan Dikmen saat itu, Iwan Syahril, menjelaskannya dalam sosialisasi Gerakan Transisi PAUD ke SD pada Januari 2024, seperti dilaporkan detikEdu:

  1. Mengenal nilai agama dan budi pekerti.

  2. Keterampilan sosial dan bahasa untuk berinteraksi.

  3. Kematangan emosi untuk berkegiatan di lingkungan belajar.

  4. Kematangan kognitif untuk melakukan kegiatan belajar.

  5. Keterampilan motorik dan perawatan diri, supaya anak bisa ikut belajar secara mandiri.

  6. Memaknai belajar sebagai hal yang menyenangkan dan positif.

Kemampuan membaca dan berhitung awal masuk ke dalam kematangan kognitif, tapi hanya satu bagian dari enam. Dalam kesempatan yang sama Iwan meminta guru kelas awal SD tidak hanya berfokus pada baca, tulis, dan hitung.

Yang bisa Ayah dan Bunda latih di rumah sebelum anak masuk SD

Gunakan enam fondasi tadi sebagai daftar periksa sederhana. Beberapa contoh yang bisa dilatih sehari-hari:

  • Mengurus diri sendiri. Membuka kotak bekal, memakai dan melepas sepatu, ke toilet, merapikan tas sendiri.

  • Mengikuti instruksi. Beri dua atau tiga perintah berurutan, misalnya "taruh piring di dapur, lalu cuci tangan".

  • Bergaul. Bergantian memakai mainan, meminta tolong, dan bilang kalau tidak nyaman.

  • Mengelola rasa kesal. Ajak anak menyebut perasaannya ("aku kesal karena...") sebelum menangis atau marah.

  • Motorik halus. Menggunting, mewarnai, meronce, dan memegang pensil dengan benar. Ini bekal sebelum menulis.

  • Senang dengan buku dan angka. Bacakan buku cerita, hitung anak tangga, tebak huruf awal nama benda. Santai, tanpa target.

Kalau anak sudah tertarik membaca, apakah perlu ditahan?

Tidak perlu. Yang tidak disarankan adalah memaksa anak belajar calistung demi lolos tes. Kalau anak sendiri minta diajari membaca, ikuti saja minatnya dengan cara bermain dan sesuai tahapnya: huruf, lalu suku kata, lalu kata.

Tanda Ayah dan Bunda perlu mengerem: anak menolak setiap kali diajak belajar, mudah menangis saat salah, atau mulai bilang "aku bodoh". Saat itu, istirahat dulu dan kembali ke kegiatan yang ia nikmati.

Belajar bertahap tanpa tekanan bersama Smartkidz

Program Bimba untuk anak 3 sampai 7 tahun mengenalkan membaca dan berhitung secara bertahap lewat belajar sambil bermain, dengan level yang disesuaikan kemampuan awal anak. Setelah anak duduk di SD, program Bimbel untuk usia 6 sampai 12 tahun bisa menemani belajarnya. Untuk mencoba dulu, ada formulir trial class gratis di halaman program Bimba.